PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS



PENERAPAN   MODEL   PEMBELAJARAN  FICTURE  AND FICTURE  UNTUK  MENINGKATKAN  HASIL  BELAJAR MATEMATIKA SISWA  KELAS IV  DI SD NEGERI  3 LALOHAO KECAMATAN WONGGEDUKU
KABUPATEN KONAWE


TUT+WURI+HANDAYANI.png
 






PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)


Diajukan untuk memenuhi sebahagian tugas-tugas Guru pembelajar Gugus 1 Wonggeduku




Oleh:

H U S N A
No peserta: 201511169892@guruku.id




DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
KAB. KONAWE

Oktober
2017









BAB  I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
            Perkembangan dunia pendidikan saat ini menjadi persoalan umat manusia dan bangsa manapun. Pendidikan sangat berperan terhadap kemajuan peradaban suatu bangsa. Jika pendidikan pada suatu bangsa mengalami kemerosotan, maka secara signifikan akan menyebabkan kemerosotan pada bidang lain sampai pada kemajuan suatu negara. Kemorosotan dalam bidang pendidikan tersebut salah satu penyebabnya adalah terdapatnya masalah dalam pendidikan khususnya pendidikan matematika.
            Sehubungan dengan rendahnya hasil belajar terhadap mata pelajaran matematika di sekolah, maka guru tak henti-hentinya mencari jalan untuk meningkatkan hasil belajar murid tersebut. Menyimak permasalahan tersebut, maka perlu diupayakan sebuah strategi pembelajaran yang tepat dalam menyajikan materi pembelajaran dikelas. Hal ini penting dilakukan, agar guru dapat memahami konsep dasar dari pembelajaran dan mampu mengaplikansikannya dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
Kesadaran perlunya pendekatan model pembelajaran dalam pembelajaran didasarkan adanya kenyataan bahwa sebagian besar murid tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pemanfaatannya dalam kehidupan nyata. Pemahaman konsep akademik murid yang mereka peroleh hanyalah merupakan sesuatu yang abstrak, belum menyentuh kebutuhan praktis kehidupan mereka. Pendekatan yang selama ini digunakan oleh guru masih bersifat pendekatan tradisional atau mekanistik, yaitu guru menerangkan dan lebih mendominasi selama proses belajar mengajar, sedangkan murid lebih banyak mencatat. Ketika murid tersebut dihadapkan pada permasalahan yang berbeda dengan yang telah diajarkan oleh guru, mereka akan mengalami kesulitan.
Akibatnya pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit dimengerti oleh sebagian besar murid, membosankan, bahkan dianggap mata pelajaran yang tidak menarik.
Hal ini terjadi di tempat tugas penulis, dimana dari hasil refleksi penulis dikatahui bahwa dari sisi aktifitas pembelajar: 1) murid terlihat kurang termotivasi dalam pengikuti proses pembelajaran., 2) murid tidak mampu menyelesaikan tugas dengan baik. Sedangkan dari pokok-pokok refleksi diketahui: a) murid terlihat kurang termotivasi dalam pengikuti proses pembelajaran., b) murid tidak mampu menghubungkan antara contoh yang mereka pelajari dengan bagaimana pemanfaatannya dalam mneyelesaikan soal, c)pemahaman konsep akademik murid yang mereka peroleh masih merupakan sesuatu yang abstrak., d) pendekatan yang selama ini digunakan oleh guru masih bersifat pendekatan tradisional atau mekanistik, yaitu guru menerangkan dan lebih mendominasi selama proses belajar mengajar, sedangkan murid lebih banyak mencatat. Ketika murid tersebut dihadapkan pada permasalahan yang berbeda dengan yang telah diajarkan oleh guru, mereka akan mengalami kesulitan.
Jika hal ini dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi rendahnya hasil belajar matematika murid kelas IV SD Negeri 3 Lalohao Kecamatan Wonggeduku Kabupaten Konawe Tahun ajaran 2017/2018. Dan ini dapat dilihat dari nilai rata-rata siswa yaitu hanya 45,38 %, pada ujian kenaikan kelas tahun 2017, sehingga penulis sebagai guru kelas IV akan menindak lanjuti dalam bentuk penelitian tindak kelas (PTK)
           
B.  Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka rumusan masalah yang dapat diajukan berbunyi: ”Bagaimana penerapan model pembelajaran ficture and ficture yang dapat meningkatan hasil belajar matematika murid kelas IV di SD Negeri 3 Lalohao Kecamatan Wonggeduku Kabupaten Konawe?”.


C   Tujuan penelitian
            Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar matematika murid melalui penerapan model pembelajaran ficture and ficture di kelas IV SD Negeri 3 Lalohao Kecamatan Wonggeduku Kabupaten Konawe
D.  Manfaat Penelitian
            Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut :
1.      Bagi murid: meningkatkan  hasil   belajar matematika.
2.      Bagi guru: Dapat mengembangkan kemampuan  profesional guru dalam peningkatan hasil belajar matematika murid melalui penerapan model pembelajaran ficture and ficture di kelas IV SD.
3.      Bagi sekolah: Memberikan sumbangan yang sangat berharga berupa informasi untuk dapat dijadikan bahan pertimbangan agar penerapan model pembelajaran ficture and ficture.













BAB   II
TINJAUAN PUSTAKA                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          
A.    Kajian Teori
1.      Hakikat Pembelajaran Matematika
        Pembelajaran merupakan suatu upaya untuk membuat murid belajar yaitu suatu usaha yang dilakukan oleh guru dalam  memilih, menetapkan dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil yang diinginkan. Slameto dalam buku Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi (2003:4) mengemukakan ”bahwa pembelajaran manaruh perhatian pada bagaimana membelajarkan murid bukan pada apa yang dipelajari siswa”. Hal ini berarti pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu rancangan membelajarkan murid.
        Pada pembelajaran matematika di sekolah, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi, pendekatan, metode dan tekhnik yang banyak melibatkan murid secara aktif dalam belajar baik secara mental, fisik, maupun sosial. Prinsip belajar aktif inilah yang diharapkan menumbuhkan sarana pembelajaran matematika yang kreatif dan kritis untuk membantu murid membangun sendiri konsep dan prinsip yang dipelajarinya.
Pelajaran matematika marupakan salah satu pelajaran dasar yang harus dikuasai oleh murid (Drs. Kuswendi 1994). Sedangkan menurut Narwan AM,S.H (1994) bahwa tujuan pengajaran matematika  adalah :
1.      Murid memiliki kemampuan yang dapat dialih gunakan melalui kegiatan matematika.
2.      Murid memiliki pengetahuan matematika sebagai bekal untuk melanjutkan kependidikan yang lebih tinggi.
3.      Murid memiliki keterampilan matematika sebagai peningkatan dan perluasan dari matematika sekolah dasar untuk dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
4.      Murid memiliki pandangan yang cukup luas dan memiliki sikap logis, kritis, cermat dan disiplin serta menghargai keguanaan matematika.

2.   Pengertian Belajar Matematika
            Suherman dalam bukunya Common text Book Strategi Pembelajaran Matematika Kontenporer (2001 : 8 ) mengemukakan bahwa ” belajar adalah proses perubahan tingka laku individu yang relatif tetap sebagai hasil dari pengalaman”. Slameto (2003 : 2) mengemukakan bahwa ” belajar adalah proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dan lingkungannya”. Sedangkan menurut Lester D. Crow  Alice Crow dalam bukunya Didaktik Metodik (2000 : 8) berpendapat bahwa ” belajar adalah perubahan individu dalam kebiasaan, pengetahuan dan sikap”, dalam definisi ini dikatakan bahwa seseorang mengalami proses belajar kalau ada perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dalam menguasai ilmu pengetahuan.
            Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dapat membawa perubahan tingkah laku seseorang ketingkah laku yang lebih baik, terutama dari segi pengetahuan, keterampilan dan sikap.
Secara khusus Gagne dalam bukunya Common   Text Book Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer (2001 : 35) mengemukakan bahwa :
Belajar matematika adalah objek yang dapat diperoleh murid, yaitu objek langsung dan objek tak langsung. Objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, belajar mandiri, bersikap positif terhadap matematika dan tahu bagaimana semestinya belajar. Sedangkan objek langsung berupa fakta, keterampilan, konsep dan aturan. 

3. Hasil Belajar Matematika
Dalam sistem pembelajaran, dikatakan berhasil setelah murid menguasai kompetensi yang ingin dicapai dalam proses belajar mengajar. Untuk mengukur hasil belajar seorang murid, terlebih dahulu harus diketahui tingkat keberhasilan murid dalam menguasai bahan pelajaran yang telah dipelajari dalam kurung waktu tertentu.
Untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan murid dalam menguasai bahan pelajaran yang telah diajarkan atau yang telah dipelajarinya, diperlukan suatu alat ukur. Alat ukur yang biasa digunakan adalah berupa tes. Nilai yang diperoleh murid setelah diberikan sesuatu tes mengenai bahan pelajaran yang telah diberikan inilah yang disebut hasil belajar matematika, dimana hasil belajar ini merupakan suatu ukuran berhasil atau tidaknya seorang murid dalam proses belajar mengajar. Hasil yang dicapai oleh seorang tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau nilai yang dimiliki oleh orang itu dalam suatu pelajaran. Seringkali hasil belajar yang dicapai dalam bidang studi tertentu disebut prestasi belajar murid dalam bidang studi itu. Seperti yang dikemukakan oleh (Syaiful 2002:14) bahwa ”prestasi belajar adalah suatu hasil yang telah dicapai seseorang setelah melakukan kegiatan tertentu”.
Berdasarkan uraian di atas, yang di maksud dengan hasil belajar matematika adalah  kemampuan yang diperoleh murid setelah malalui kegiatan belajar matematika, dimana hasil belajar metematika tersebut dipengaruhi oleh intelegensi dan penguasaan awal murid tentang matematika yang akan dipelajari. Sehingga dapat disimpulkan hasil belajar adalah hasil dari proses pembelajaran terhadap seseorang tentang suatu mata pelajaran yang menyebabkan seseorang dapat mengungkapkan kemampuannya sejauh mana ia dapat menguasai materi pelajaran yang dapat diukur dengan tes.

4.      Model Pembelajaran Ficture And Ficture
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifanya masih sangat umum, didalamnya mewadahi, menginsipirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis. Dilihat dari pendekatanya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran strategi pembelajaran induktif siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Secara khusus Wina Sanjaya dalam bukunya Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (2006 : 147 ) ”Metode dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran”. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan rencana pembelajaran, diantaranya (1) Ceramah (2) Demosnstrasi, (3) Diskusi, (4) Simulasi, (5) Laboratorium, (6) Pengalaman lapangan, Dari beberapa metode pembelajaran diatas maka penulis memilih dan menggunakan metode ceramah dan demosntrasi dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual teaching and learning (CTL). Menurut Sugiyono dalam bukunya Metode penelitian Pendidikan (2008:6) mengemukakan bahwa metode penelitian adalah cara ilmiah  untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisifasi masalah dalam bidang pendidikan. Jenis-jenis penelitian dapat dikelompokkan menurut (1) Bidang, (2) Tujuan, (3) Metode, (4)Tingkat ekplanasi, dan (5) Waktu. 
Teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesidik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah murid yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknik akan berbeda dengan menggunakan metode ceramah pada kelas yang jumlah muridnya terbatas. Demikian pula, dengan penggunan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang muridnya tergolong pasif.
Taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekaligus juga seni (kiat).
Dari namanya sudah bisa ditebak model pembelajaran  ficture and ficture ini tentunya menggunakan media pembelajaran berupa gambar. Model Pembelajaran ficture and ficture merupakan model pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media pembelajaran. Penggunaan media gambar ini disusun dan dirancang agar anak dapat menganalisis gambar tersebut menjadi sebuah bentuk diskripsi singkat mengenai apa yang ada didalam gambar. Penggunaan Model Pembelajaran ficture and ficture ini lebih menekankan pada konteks analisis siswa.
Biasa yang lebih dominan digunakan di kelas tinggi, namun dapat juga digunakan di kelas rendah dengan menenkankan aspek psikoligis dan tingkat perkembangan siswa kelas rendah seperti ; kemampuan berbahasa tulis dan lisan, kemampuan analisis ringan, dan kemampuan berinteraksi dengan siswa lainnya. Model pembelajaran ficture and ficture menggunakan gambar dapat melalui OHP, Proyektor, ataupun yang paling sederhana adalah poster. Gambar yang digunakan haruslah jelas dan kelihatan dari jarak jauh, sehingga anak yang berada di belakang dapat juga melihat dengan jelas.
Konsep pada umumnya dipelajari melalui dua cara. Paling banyak konsep yang dipelajari di luar sekolah melalui pengamatan dan juga dipelajari melalui definisi konsep itu sendiri. Model pembelajaran Ficture and ficture adalah taktik yang dapat digunakan untuk mengajarkan definisi konsep. Taktik ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa secara cepat dengan menggunakan 2 hal yang terdiri dari ficture and ficture dari suatu definisi konsep yang ada, dan meminta murid untuk mengklasifikasikan keduanya sesuai dengan konsep yang ada. Ficture memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu materi yang sedang dibahas, sedangkan ficture and ficture memberikan gambaran akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu materi yang sedang dibahas.Ficture and ficture dianggap perlu dilakukan karena suatu definisi konsep adalah suatu konsep yang diketahui secara primer hanya dari segi definisinya daripada dari sifat fisiknya. Dengan memusatkan perhatian murid terhadap example dan non-example diharapkan akan dapat mendorong murid untuk menuju pemahaman yang lebih dalam mengenai materi yang ada.
Menurut Buehl (1996) keuntungan dari metode ficture and ficture antara lain:
a.       Murid berangkat dari satu definisi yang selanjutnya digunakan untuk memperluas pemahaman konsepnya dengan lebih mendalam dan lebih komplek
b.      Murid terlibat dalam satu proses discovery (penemuan), yang mendorong mereka untuk membangun konsep secara progresif melalui pengalaman dari ficture and ficture
c.       Murid diberi sesuatu yang berlawanan untuk mengeksplorasi karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non example yang dimungkinkan masih terdapat beberapa bagian yang merupakan suatu karakter dari konsep yang telah dipaparkan pada bagian ficture and ficture.

5.      Langkah-langkah pembelajaran Ficture And Ficture
a.       Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
b.      Menyajikan materi secara singkat sebagai pengantar.
c.       Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi.
d.      Guru menunjuk/memanggil murid secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan/hubungan yang logis.
e.       Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
f.       Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
g.      Kesimpulan/rangkuman.
B.  Kerangka pikir
Model pembelajaran ficture and ficture adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan adanya keterkaitan konteks antara materi dan aktivitas pembelajaran dengan lingkungan murid. Pendekatan CTL memberikan harapan yang tinggi kepada murid untuk mencapai hasil yang optimal karena dirancang secara khusus untuk mengembangkan cara belajar murid tentang pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan sesuatu. Pembelajaran Kontestual bertujuan membekali murid dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan, ditrasfer dari satu permasalahan ke permasalahan yang lain; dari satu konteks ke konteks lainnya. Selain itu pendekatan kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan produktif dan bermakna. Pendekatan ficture and ficture dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada.                                                                                                 
Penggunaan pendekatan model pembelajaran ficture and ficture dalam pembelajaran matematika akan meningkatkan hasil belajar murid karena metode kontektual dapat mengikuti tujuan dan pentingnya pelajaran, informasi dan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari yang diperoleh murid terstruktur dengan baik.
Agar lebih jelas terkait dengan kerangka pikir ini, maka disajkan dalam bentuk bagan sebagai berikut:
Down Arrow Callout: Kondisi 
Awal
,Down Arrow Callout: GURU :
Belum menggunakan Model pembelajaran 
ficture and ficture
,Down Arrow Callout: Siklus III:
Menggunakan metode
Model pembelajaran ficture and ficture

,Down Arrow Callout: Kondisi 
Akhir



Gambar 1. Kerangka Pikir

C.  Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teoritik diatas, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah :
”Jika murid SD Negeri 3 Lalohao diberikan pengajaran dengan Pendekatan model pembelajaran ficture and ficture maka pemahaman siswa terhadap matematika akan meningkat”.

BAB III
METODE  PENELITIAN


A.    Jenis dan Setting Penelitian
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan faktor kajian peningkatan hasil belajar matematika siswa melalui model pembelajaran ficture and ficture.
Secara garis besar pelaksanaan tindakan ini dibagi dalam dua siklus dengan empat tahapan, yaitu
1.      Perencanaan tindakan
2.      Pelaksanaan tindakan
3.      Observasi dan evaluasi
4.      Analisis dan refreksi.

B.     Lokasi dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 3 Lalohao Kecamatan Wonggeduku Kabupaten Konawe, dengan subjek penelitian adalah  murid kelas IV dengan jumlah murid 23 orang yang terdiri  dari 9 orang perempuan dan 14 orang laki-laki pada semester genap tahun pelajaran 2017 / 2018

C.  Faktor yang Diselidiki
Adapun faktor-faktor yang diselidiki pada penelitian ini adalah :
1.      Faktor out put: Melihat bagaimana pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran ficture and ficture pada pelajaran matematika mampu meningkatkan pemahaman matematika murid dengan melihat hasil belajar murid yang diperoleh dari setiap siklus .
2.       Faktor proses : Melihat interaksi antara guru dengan murid maupun antara murid dengan murid lainnya saat proses belajar mengajar berlangsung serta mengecek pemahaman mengenai materi yang telah diberikan dan memberikan pertanyaan serta adanya umpan balik agar murid dapat benar-benar mengerti dan memahami apa yang telah dipelajari dengan menerapkan model pembelajaran ficture and ficture.
3.      Faktor siswa : melihat kehadiran, keaktifan murid serta kemampuan murid dalam menyelesaikan masalah dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran ficture and ficture.

D.  Prosedur Kerja Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2017 / 2018 yang terbagi atas dua siklus. Siklus I dan siklus II masing-masing di laksanakan selama dua kali pertemuan. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai, seperti yang telah didesain dalam faktor yang diselidiki.
Untuk dapat mengetahui hasil belajar matematika murid  kelas IV SD Negeri 3 Lalohao Kecamatan Wonggeduku Kabupaten Konawe, maka digunakan nilai ulangan harian siswa pada pokok bahasan terakhir sebagai tes awal dan hasilnya dianggap sebagai skor dasar. Selanjutnya dilakukan proses pembelajaran model pembelajaran ficture and ficture, guna meningkatkan hasil belajar matematika murid. Berdasarkan rencana pembelajaran di atas, maka penelitian tindakan kelas ini meliputi 4 tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap observasi, dan tahap refleksi.
Siklus I dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan dan siklus II dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan tujuan yang ingin dicapai seperti yang telah didesain dalam faktor yang diselidiki.
            Adapun rincian kegiatan yang akan dilakukan pada setiap siklus adalah sebagai berikut :
Siklus  I
            Sesuai dengan kriteria penelitian tindakan kelas (classroom action research), maka pelaksanaan siklus I ini dibagi dalam 4 tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi atau evaluasi serta tahap refreksi.
1.   Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan yang dilakukan pada siklus I ini adalah sebagai berikut :
a.       Menelaah materi pelajaran matematika murid kelas IV SD Negeri 3 Lalohao Kecamatan Wonggeduku Kabupaten Konawe, berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) tipe 2013.
b.      Membuat rencana pembelajaran berbasis model pembelajaran ficture and ficture dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1)      Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2)      Menyajikan materi secara singkat sebagai pengantar.
3)      Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi.
4)      Guru menunjuk/memanggil murid secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan/hubungan yang logis.
5)      Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
6)      Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
7)      Kesimpulan/rangkuman.
c.       Menyiapkan materi / alat bantu yang digunakan dalam pembelajaran
d.      Menyiapkan pembentukan kelompok-kelompok kecil jika diperlukan kerja kelompok untuk keperluan-keperluan dengan pendekatan kontekstual.
e.       Membuat pedoman observasi untuk merekam proses pembelajaran dikelas.
f.       Membuat alat evaluasi berupa soal-soal yang disusun berdasarkan materi-materi yang telah dipelajari.
g.      Membuat lembar  observasi untuk melihat bagaimana kondisi murid pada saat proses belajar mengajar dikelas berlangsung yang meliputi kehadiran, keaktivan mengikuti pelajaran, rasa percaya diri, keterampilan murid dalam nelakukan kerjasama dengan anggota kelonpok, dan keberanian dalam memprensentasikan hasil belajar kelompoknya dan menanggapi presentasi kelompok lain.

2.   Tahap Tindakan  
            Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah kegiatan belajar mengajar dan mengimplementasikan soal-soal yang telah dipersiapkan, baik dalam proses belajar mengajar di kelas maupun pemberian tugas kurikuler.
      Gambaran umum kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut :
a.       Pada awal setiap pertemuan, yang pertama kali dilakukan oleh guru adalah memberikan penjelasan singkat tentang materi yang dipelajari dengan mengaitkannya dengan kehidupan nyata murid atau masalah yang dapat dibayangkan sebagai masalah nyata.
b.      Setelah guru menjelaskan, murid diberikan tugas sesuai dengan bahan yang telah dikembangkan baik secara individu maupun kelompok.
c.       Tiap pertemuan guru mencatat semua kejadian yang dianggap penting baik mengenai kehadiran murid, maupun keaktifan murid (mengerjakan tugas, bertanya, dan memberikan tanggapan).
d.      Memberikan tes akhir siklus
e.       Melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa, dengan berbagai cara seperti diukur proses bekerja, hasil karya, penampilan, PR, hasil tes tulis dan demostrasi.


3.   Tahap Observasi dan Evaluasi
Pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat serta melaksanakan evaluasi. Observasi ini dilaksanakan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Data hasil observasi dicatat dalam lembar observasi yang meliputi kehadiran murid, keaktifan murid dalam hal bertanya atau memberi tanggapan, menjawab pertanyaan guru atau teman, mengerjakan tugas, tampil menyelesaikan soal latihan dipapan tulis dengan benar, murid yang melakukan kegiatan diluar dari proses belajar mengajar, murid yang memerlukan bimbingan dalam mengerjakan soal, dan murid yang memintah utuk dijelaskan konsep yang telah dibahas.
Selanjutnya evaluasi dilaksanakan pada akhir siklus I dengan memberikan tes tertullis. Hal ini dimaksudkan untuk mengukur penguasaan murid terhadap materi yang diperoleh selama siklus I berlangsung. Disamping itu, murid juga diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan secara tertulis mengenai pendekatan yang digunakan.
Proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan siklus I dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat serta melaksanakan evaluasi.
4.   Tahap Analisis dan Refleksi
Hasil yang didapat dalam tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis. Dari hasil analisis tersebut dilakukan refreksi, hal-hal yang masih kurang diperbaiki dan dikembangkan dengan tetap mempertahankan hasil pada setiap pertemuan
Hasil  analisis dan refreksi pada siklus I digunakan sebagai acuan untuk melaksanakan siklus berikutnya.
Siklus  II
Siklus II dilaksanakan sebanyak 8 kali pertemuan. Pada dasarnya hal yang dilakukan pada siklus II ini adalah mengulangi tahap-tahap yang dilakukan pada siklus I. Disamping itu dilakukan juga sejumlah rencana baru untuk memperbaiki, merancang tindakan baru sesuai dengan pengalaman dan hasil refleksi yang diperoleh pada siklus I
1.   Tahap Perencanaan
Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan pada siklus II yaitu :
a.       Merumuskan dan merancang tindakan berdasarkan hasil refleksi tindakan pada siklus I.
b.      Membuat rencana pembelajaran berbasis kontekstual
c.       Membuat soal-soal untuk melihat kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal berdasarkan materi yang telah dipelajari dalam siklus II.
d.      Membuat lembar observasi siklus II sebagai lanjutan dari siklus II
e.       Menyiapkan alat bantu pengajaran dalam rangkah optimalisasi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual.


2.   Tahap Tindakan 
Siklus II berlangsung sebanyak 4 kali pertemuan. Pertemuan pertama sampai ketiga dialokasikan untuk proses belajar mengajar dan pertemuan keempat untuk pelaksanaan tes siklus II. Dalam proses belajar mengajar, murid diarahkan untuk menemukan sendiri dan mengkonstruksi pengetahuan di benak mereka sendiri, sehingga pembelajaran lebih bermakna. Tugas-tugas dinilai secara kualitatif dan kuantitatif.
3.   Tahap Observasi dan Evaluasi
Proses observasi yang dilakukan pada siklus II sama dengan yang dilakukan pada siklus I yaitu mengamati dan mencatat kondisi yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung yang meliputi kehadiran dan keaktifan murid dalam bertanya, mengerjakan tugas dan memberi tanggapan. Sedangkan untuk evaluasi diberikan tes tertulis (tes akhir siklus II) guna mengetahui hasil yang dicapai oleh murid setelah diberikan tindakan.
Pada akhir siklus ini murid juga diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan secara tertulis mengenai pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan model pembelajaran ficture and ficture.
4.   Tahap Analisis dan Refreksi
Hasil yang didapat dalam tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis. Setelah dianalisis, peneliti dapat membuat kesimpulan atas pendekatan pembelajaran yang telah diterapkan selama dua siklus dan bagaimana implikasinya terhadap hasil belajar murid.
Hasil tahap refleksi siklus II, pada dasarnya sama dengan apa yang dilakukan pada siklus I. Pada tahap ini murid diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan secara tertulis tentang pembelajaran dengan pendekatan model pembelajaran ficture and ficture.
Hasil yang didapatkan dalam tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Berdasarkan hasil analisis tersebut, selanjutnya dilakukan refleksi terhadap bagian tindakan yang telah dilakukan maupun terhadap hasil yang telah dicapai termasuk hambatan dan kendala yang dihadapi.
E.     Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :
1.      Data mengenai tingkat pemahaman murid terhadap materi pelajaran setelah diadakan tindakan, dikumpulkan dengan menggunakan tes pada akhir setiap siklus dalam bentuk ulangan harian.
2.      Data mengenai proses belajar mengajar dalam hal kehadiran dan keaktifan murid untuk tiap pertemuan diambil dengan menggunakan lembar observasi.
3.      Data tentang tanggapan murid terhadap pendekatan pembelajaran yang digunakan dikumpulkan dengan memberikan kesempatan kepada murid untuk menuliskan tanggapannya pada setiap akhir siklus.

F.     Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Untuk analisis secara kuantitatif statistik deskripsi yaitu rata-rata dan persentase. Selain itu ditentukan pula standar deviasi, tabel frekuensi, nilai minimum dan maksimum yang diperoleh murid pada setiap siklus.
Adapun untuk keperluan analisis kualitatif digunakan teknik kategori standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai berikut :
1.      Tingkat pengusaan 0 % - 34 % dikategorikan ”sangat rendah”
2.      Tingkat pengusaan 35 % - 54 % dikategorikan ”rendah”
3.      Tingkat pengusaan 55 % - 64 % dikategorikan ”sedang”
4.      Tingkat pengusaan 65 % - 84 % dikategorikan ”tinggi”
5.      Tingkat pengusaan 86 % - 100 % dikategorikan ”sangat tinggi”

G.    Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah apabila jumlah siswa yang mencapai peningkatan hasil belajar mengalami kemajuan. Berdasarkan ketentuan Depdiknas (Handayani, 2004:24), siswa dikatakan berhasil dalam belajar bila memperoleh skor minimal 65 % dari skor ideal dan berhasil secara klasikal apabila jumlah murid yang berhasil belajar paling sedikit 85 %.
























Komentar